Terimakasih atas kunjungan Anda ke situs Kami
 
 
 
       
 
 

HIZBUL WATHAN

Menumbuhkan Nasionalisme Generasi Bangsa

Hizbul Wathan (HW) bisa menjadi mitra pemerintah untuk menumbuhkan nasionalisme dan berkarya nyata dalam membentuk pribadi-pribadi generasi muda menuju manusia yang berkepribadian utuh dan memiliki ketaqwaan yang tinggi

Peran Era Kemerdekaan

Memang, selama Orde Baru keberadaan HW tenggelam, karena terbentur Kepres 238/1961 yang hanya membolehkan pramuka sebagai satu-satu gerakan kepanduan di Indonesia.
 
Dengan adanya angin reformasi 1998, pada 10 Sya'ban 1420 H bertepatan dengan 18 November 1999 M, Persyarikatan Muhammadiyah membangkitkan kembali HW, karena HW telah berdiri pada 1918.

Sejarah mencatat, HW yang berarti pembela tanah air ikut serta dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan seperti yang terjadi di Masjid Raya Ganting Padang.

Peristiwanya terjadi pada 1945 saat Jepang masuk ke Indonesia di mana Presiden Soekarno dalam tawanan Belanda di Bengkulu. Oleh pihak penjajahan Belanda, Soekarno kemudian dipindahkan ke Kota Cane Aceh sampai ke Painan.

Melihat situasi ini, dengan sigap anggota HW dari Masjid Ganting Padang menjemput Soekarno menggunakan pedati. Oleh anggota HW, Soekarno diamankan di rumah tokoh Muhammadiyah dan diantar menemui Panglima Jihad Sumatera Tengah, Syekh Abbas Abdullah pimpinan Madrasah Darul Funun El Abbasyah di Padang.

Selama pendudukan Jepang (1942-1945) Masjid Raya Ganting yang menjadi markas HW sebagai tempat pembinaan prajurit Gyugun dan Hei Ho, tentara pribumi bentukan Jepang yang kebanyakan anggotanya dari HW.
Setelah Jepang kalah, Inggris bersama sekutunya memasuki Padang membawa sejumlah tentara Gurka, diantaranya dari India dan beragama Islam. Sekutu bermarkas di Balaikota Padang.

Suatu hari terjadi perkelahian antara tentara Gurka India yang muslim dan non muslim. Yang muslim tewas, Pasukan HW dari Masjid Ganting yang mengetahui kejadian itu menerobos markas sekutu di Balaikota.
Mereka mengambil dan membawa jenazah korban ke masjid. Setelah dishalatkan, kemudian dimakamkan di halaman belakang. Kini kuburannya masih ditemukan di bagian depan mihrab masjid.

Legenda

Kalau menyebut HW tentunya tidak akan lepas dari Jenderal Besar Sudirman. Sewaktu muda, Sudirman aktif di HW dan mengabdikan dirinya sebagai guru HIS Muhammadiyah Cilacap, serta mengajarkan anak didiknya untuk terlibat di HW.

Berkat didikan kedisplinan dan cinta tanah air yang diperoleh di HW, kemudia ia mengikuti pendidikan militer pembela tanah air (PETA).

Sebagai kader HW, Sudirman selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda.

Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai.

Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit, keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan.

Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan.

Namun, anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan kepada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Walaupun harus ditandu, Sudirman berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya.
Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah, sementara obat juga hampir-hampir tidak ada.

Tetapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya.

Dan pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta, dan dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya
Makanya, sebagai tokoh HW, Jenderal Sudirman merupakan legenda bagi HW yang mempunyai pribadi dalam berteguh dan bersikap maupun berkeyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, hal ini sesuai dengan perjuangan HW.

 

 
 
     
     
    Copyright © 2008 all reserved  
> Guru
> Siswa
> BKK.
> Prakerin
> Fasilitas

> Kunjungan Industri
> Jurusan
> IRM.
> Osis
> HW
> Extrakurikuler

MENU

LICENCE
Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang didirikan oleh K.H.Akhmad dahlan tanggal 18 november 1912 M atau bertepatan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H di Jogjakarta.

Muhammadiyah adalah Organisasi Islam yang mengikuti perilaku/ajaran nabiyullah Muhammad SAW